Mungkin jika aku hidup di dunia fiksi, aku hidup sebagai tokoh antagonis. Tokoh yang menentang si protagonis. Namun jika dilihat dari perilakuku, aku tidak cocok disebut antagonis. Hanya hatiku saja yang antagonis, tapi perilakuku protagonis. Aneh? Tidak juga, sebab aku sendiri yang mengalaminya. Aku berperilaku baik, tutur kataku sopan, penampilanku tak jauh dari gadis-gadis yang kerap muncul dipikiranmu ketika kau membaca novel. Tapi satu hal yang tak kusukai dari diriku. Hatiku sendiri. Aku egois, ingin menang sendiri, ingin menjadi pusat jagad raya. Apa yang aku sukai, tak boleh menjadi kesenangan orang lain. Jika aku menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya. Ya, itulah diriku, si antagonis yang transparan. Orang lain memandangku seorang anak yang baik, penurut, dan hal-hal baik lainnya yang mencer...