Langsung ke konten utama

Cerpen - Hati Antagonis


           Mungkin jika aku hidup di dunia fiksi, aku hidup sebagai tokoh antagonis. Tokoh yang menentang si protagonis. Namun jika dilihat dari perilakuku, aku tidak cocok disebut antagonis. Hanya hatiku saja yang antagonis, tapi perilakuku protagonis. Aneh? Tidak juga, sebab aku sendiri yang mengalaminya.
            Aku berperilaku baik, tutur kataku sopan, penampilanku tak jauh dari gadis-gadis yang kerap muncul dipikiranmu ketika kau membaca novel. Tapi satu hal yang tak kusukai dari diriku. Hatiku sendiri. Aku egois, ingin menang sendiri, ingin menjadi pusat jagad raya. Apa yang aku sukai, tak boleh menjadi kesenangan orang lain. Jika aku menginginkan sesuatu, aku harus mendapatkannya. Ya, itulah diriku, si antagonis yang transparan.
            Orang lain memandangku seorang anak yang baik, penurut, dan hal-hal baik lainnya yang mencerminkan tokoh protagonis. Tapi sayang, mereka tak tahu isi hatiku, hatiku busuk penuh kedengkian dan hal-hal buruk lainnya. Rasa dengki yang sering aku rasakan ketika orang lain dapat melakukan apa yang aku tak bisa lakukan. Rasa dendam ketika orang lain ada yang menyalahiku. Semua rasa ini tergambar dalam tokoh antagonis, mirip seperti yang kau baca di  novel.
            Namun, dibalik itu semua, aku ini orang baik. Aku dulu menjadi murid teladan di sekolahku. Aku rajin beribadah dan berdoa. Aku berbakti pada kedua orang tuaku. Aku menjadi anak yang penurut. Sikapku ini mencerminkan tokoh protagonis. Tapi kenapa hatiku seperti tokoh antagonis?
            Jika ada waktu luang, aku kerap melamunkan hal ini. Kadang aku bertanya-tanya pada Tuhan, mengapa Dia menciptakan makhluk sepertiku? Makhluk yang bersikap protagonis, namun berhati antagonis. Sungguh, jika boleh aku ingin menjadi manusia yang baik, baik luar dan dalam. Atau, jika Tuhan berkehendak lebih baik aku jadi orang jahat saja sekalian, daripada aku bersikap baik, tapi hatiku busuk!
            Jika ada penulis yang ingin menulis kisahku, aku yakin, pasti ia bingung menentukan aku ini orang baik, atau sebaliknya. Mungkin sikapku tergolong protagonis, tapi hatiku tetap saja hati antagonis. Mungkin hanya Tuhan saja yang bisa menulis kisah hidupku hingga aku mati nanti.
Kaira
            Aku menutup buku harianku, dan menaruhnya di bawah kolong tempat tidur. By the way, menulis buku harian tidaklah harus menulis tentang kejadian yang kita alami hari ini kan? Aku menulisnya hanya untuk melampiaskan apa yang kurasakan saat ini. Ya, seperti yang kau baca tadi, aku ini berperilaku protagonis, tapi hatiku busuk seperti tokoh antagonis. Orang lain tak mengetahui hal ini, karena aku pintar menyembunyikan apa yang aku rasakan. Hanya Ibuku saja yang tahu akan hal ini. Aku sering curhat dengan beliau mengenai apa yang kurasakan. Tidak ada rahasia yang aku sembunyikan jika aku berhadapan dengan Ibuku.
            “Lebih baik kau menghilangkan sifat burukmu ini, Kai.” Nasihat ini yang sering Ibu berikan padaku setiap aku wadul padanya. Ibuku memang memberikan nasihat yang baik, tapi susah bagiku untuk melakukannya. Setiap kali aku mencobanya, pastilah hatiku ini berontak. Walaupun hatiku berontak, tapi otakku masih berpikir rasional. Hati antagonis, otak protagonis.
            Walaupun aku sudah mencurahkan kegalauanku ke buku harian, namun otakku ini enggan berhenti memikirkan diriku sendiri yang berhati busuk. Padahal aku sudah memejamkan mataku, menyuruhnya untuk tidur, tapi tetap saja aku masih memikirkannya. Tak lama kemudian, mataku mulai berat, dan alam mimpi mulai menggerayahi sukmaku.
***
            Suara kokokkan ayam milik Bapak membangunkan tidurku. Aku meregangkan ototku sekadar untuk merilekskannya. Aku membuka mataku, menguceknya pelan. Hati antagonis, otak protagonis. Empat kata itu tiba-tiba muncul mengingatkanku. Sialan, aku jadi ingat kebiasaan burukku lagi. Mungkin dengan mandi pagi aku dapat menghilangkannya.
            Rintik-rintik air shower mulai membasahi tubuhku. Aku menyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang diputar di kamarku. Mengambil handuk, aku keluar dari kamar mandi di kamarku. Bersiap untuk menjalani rutinitasku di kantor.
            Meja makan telah siap dengan sarapan di atasnya. Aku menarik kursi, lalu mendudukinya. Sarapan seperti biasa, roti dengan selai blueberry, dan segelas susu coklat hangat. Ibu menyiapkan ini untukku, Bapak, dan untuk Ibu sendiri tentunya.
            “Bu, saya masih memikirkan kebiasaan buruk saya.” Ucapku diikuti dengan satu gigitan roti masuk ke mulutku.
            “Ibu kan sudah bilang, Kai, lebih baik kau menghilangkan sifat burukmu itu.” lagi-lagi Ibu mengucapkan nasihat itu.
            “Sulit, Bu,” ada nada kecewa diperkataanku. Ibu tak menjawab, dia bungkam. Aku melanjutkan sarapanku. Piringku kosong, hanya tersisa remah-remah roti. Gelasku juga sudah kosong. Aku beranjak dari kursi, hendak mencuci piring dan gelasku.
            “Saya berangkat, Bu.” Tangan Ibu yang menyambut uluran tanganku, aku hantarkan ke dahiku.
            “Hati-hati ya, Nduk.” Aku hanya tersenyum sebagai responnya.
            Aku melangkah ke depan kamar mandi dekat dapur, “Pak, saya berangkat dulu.”
            “Ati-ati yo, Nduk.” Balasnya dari dalam kamar mandi.
***
            Pulang kerja dari kantor, aku berniat pergi ke salah satu teman Ibuku yang berprofesi sebagai psikolog. Sudah kuputuskan jika aku pergi ke psikolog sejak istirahat makan siang tadi di kantor. Gara-gara kepikiran hati antagonisku, kerjaanku di kantor hari ini agak berantakan. Bosku hampir memarahiku gara-gara kerjaanku berantakan hari ini. Dari balik jendela ruang bosku, aku melihat orang yang kubenci, Renata, sedang tersenyum-senyum bahagia karena aku hampir dimarahi si bos. Di situ hati antagonisku mulai berulah lagi. Hatiku menyumpahi Renata dengan berbagai umpatan. Jika tokoh-tokoh protagonis tahan terhadap segala caci maki, itu berbanding terbalik denganku. Aku biasanya menyumpahi orang seperti Renata dalam hati.
            Kini aku sudah berhadapan dengan Bu Sekar, psikolog yang kudatangi sore ini. Aku hendak menceritakan kebiasaan burukku padanya, lantas meminta sarannya. Saran yang lebih variatif dari saran Ibuku pastinya.
            “Bu, saya ini orangnya antik. Saya berperilaku baik, seperti tokoh protagonis, tapi hati saya ini busuk, layaknya hati antagonis. Menurut Ibu, apa yang harus saya lakukan untuk menghentikan kebiasaan ini?” aku memulai percakapan ini.
            “Hm... aneh,” komentarnya pertama kali, “contoh bad habits-mu apa?” tanyanya kemudian.
            “Saya sering memendam dengki, Bu. Saya nggak suka sama orang lain yang suka nyalahin saya. Saya suka iri sama orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi saya sendiri nggak bisa melakukannya. Saya nggak suka kalau kesukaan saya menjadi kesukaan orang lain.” Aku menyebutkan perasaan yang sering hati antagonisku rasakan.
            “Contoh yang awal tadi masih wajar, Kai. Yang menjadi masalah itu contoh bad habits-mu yang terakhir, kamu nggak suka kalau kesukaanmu jadi kesukaan orang lain.” Bu Sekar menanggapi lalu menyeruput kopi di mejanya. “Kalau kamu nggak suka sama sesuatu, kamu melarang orang terdekat untuk melakukannya nggak?” lanjutnya lagi.
            “Hm... tergantung sih, Bu.” Jawabku apa adanya.
            “Misalnya begini, kamu nggak suka nonton sinetron A, terus ada teman kamu yang sedang nonton sinetron itu. Apa kamu terus melarang dia untuk nggak nonton sinetron itu lagi?” Bu Sekar terlihat sedang menyimpulkan analisa-analisanya tentangku.
            “Hm... tidak, Bu,” aku menjawab sekenanya, “itu kan HAM, Bu.” Aku mencoba memberi alasan.
            “Nah, itu kamu sudah tahu alasannya.” Bu Sekar menyahut tiba-tiba. “Kamu tahu kalau itu HAM, kamu sendiri justru nggak suka kalau kesukaanmu jadi kesukaan orang lain juga. Itu kan HAM juga, Kaira.” Bu Sekar menasihatiku.
            “Iya, tapi sulit untuk menerimanya, Bu. Apa saya ini punya kelainan, Bu?”
            “Nggak,” tegasnya. “Tapi kamu harus menghilangkan bad habit-mu yang itu.” dia sengaja menekankan kata ‘itu’.
            “Sudah, tapi gagal.” Aku menjawab jujur.
            “Coba kamu pikirkan,” Bu Sekar mengambil jeda sebentar. “Artis-artis, khususnya penyanyi, mereka menyanyikan lagu mereka. Lalu, para penggemarnya juga ikut menyanyikan apa yang mereka nyanyikan. Bukankah itu sama seperti bad habit-mu?” dia memberi perumpamaan.
            “Iya, sama. Tapi mereka kan artis,” bantahku lagi.
            “Anggaplah kamu artisnya, dan orang lain yang menyukai kesukaanmu itu penggemarmu.”

            Mungkin pemikiran Bu Sekar itu dapat merubah hati antagonisku. Tapi, apa mungkin seorang Kaira yang berperilaku protagonis, dan berhati antagonis seperti aku ini dapat melakukannya?

Komentar