Mungkin jika aku hidup di dunia
fiksi, aku hidup sebagai tokoh antagonis. Tokoh yang menentang si protagonis.
Namun jika dilihat dari perilakuku, aku tidak cocok disebut antagonis. Hanya
hatiku saja yang antagonis, tapi perilakuku protagonis. Aneh? Tidak juga, sebab
aku sendiri yang mengalaminya.
Aku berperilaku baik, tutur kataku
sopan, penampilanku tak jauh dari gadis-gadis yang kerap muncul dipikiranmu
ketika kau membaca novel. Tapi satu hal yang tak kusukai dari diriku. Hatiku
sendiri. Aku egois, ingin menang sendiri, ingin menjadi pusat jagad raya. Apa
yang aku sukai, tak boleh menjadi kesenangan orang lain. Jika aku menginginkan
sesuatu, aku harus mendapatkannya. Ya, itulah diriku, si antagonis yang
transparan.
Orang lain memandangku seorang anak
yang baik, penurut, dan hal-hal baik lainnya yang mencerminkan tokoh
protagonis. Tapi sayang, mereka tak tahu isi hatiku, hatiku busuk penuh
kedengkian dan hal-hal buruk lainnya. Rasa dengki yang sering aku rasakan
ketika orang lain dapat melakukan apa yang aku tak bisa lakukan. Rasa dendam
ketika orang lain ada yang menyalahiku. Semua rasa ini tergambar dalam tokoh
antagonis, mirip seperti yang kau baca di novel.
Namun, dibalik itu semua, aku ini
orang baik. Aku dulu menjadi murid teladan di sekolahku. Aku rajin beribadah
dan berdoa. Aku berbakti pada kedua orang tuaku. Aku menjadi anak yang penurut.
Sikapku ini mencerminkan tokoh protagonis. Tapi kenapa hatiku seperti tokoh
antagonis?
Jika ada waktu luang, aku kerap
melamunkan hal ini. Kadang aku bertanya-tanya pada Tuhan, mengapa Dia
menciptakan makhluk sepertiku? Makhluk yang bersikap protagonis, namun berhati
antagonis. Sungguh, jika boleh aku ingin menjadi manusia yang baik, baik luar
dan dalam. Atau, jika Tuhan berkehendak lebih baik aku jadi orang jahat saja
sekalian, daripada aku bersikap baik, tapi hatiku busuk!
Jika ada penulis yang ingin menulis
kisahku, aku yakin, pasti ia bingung menentukan aku ini orang baik, atau
sebaliknya. Mungkin sikapku tergolong protagonis, tapi hatiku tetap saja hati antagonis.
Mungkin hanya Tuhan saja yang bisa menulis kisah hidupku hingga aku mati nanti.
Kaira
Aku
menutup buku harianku, dan menaruhnya di bawah kolong tempat tidur. By the way, menulis buku harian tidaklah
harus menulis tentang kejadian yang kita alami hari ini kan? Aku menulisnya
hanya untuk melampiaskan apa yang kurasakan saat ini. Ya, seperti yang kau baca
tadi, aku ini berperilaku protagonis, tapi hatiku busuk seperti tokoh
antagonis. Orang lain tak mengetahui hal ini, karena aku pintar menyembunyikan
apa yang aku rasakan. Hanya Ibuku saja yang tahu akan hal ini. Aku sering
curhat dengan beliau mengenai apa yang kurasakan. Tidak ada rahasia yang aku
sembunyikan jika aku berhadapan dengan Ibuku.
“Lebih baik kau menghilangkan sifat burukmu
ini, Kai.” Nasihat ini yang sering Ibu berikan padaku setiap aku wadul
padanya. Ibuku memang memberikan nasihat yang baik, tapi susah bagiku untuk
melakukannya. Setiap kali aku mencobanya, pastilah hatiku ini berontak.
Walaupun hatiku berontak, tapi otakku masih berpikir rasional. Hati antagonis,
otak protagonis.
Walaupun
aku sudah mencurahkan kegalauanku ke buku harian, namun otakku ini enggan
berhenti memikirkan diriku sendiri yang berhati busuk. Padahal aku sudah
memejamkan mataku, menyuruhnya untuk tidur, tapi tetap saja aku masih
memikirkannya. Tak lama kemudian, mataku mulai berat, dan alam mimpi mulai
menggerayahi sukmaku.
***
Suara
kokokkan ayam milik Bapak membangunkan tidurku. Aku meregangkan ototku sekadar
untuk merilekskannya. Aku membuka mataku, menguceknya pelan. Hati antagonis, otak protagonis. Empat
kata itu tiba-tiba muncul mengingatkanku. Sialan, aku jadi ingat kebiasaan
burukku lagi. Mungkin dengan mandi pagi aku dapat menghilangkannya.
Rintik-rintik
air shower mulai membasahi tubuhku.
Aku menyanyi-nyanyi kecil mengikuti lagu yang diputar di kamarku. Mengambil
handuk, aku keluar dari kamar mandi di kamarku. Bersiap untuk menjalani
rutinitasku di kantor.
Meja
makan telah siap dengan sarapan di atasnya. Aku menarik kursi, lalu
mendudukinya. Sarapan seperti biasa, roti dengan selai blueberry, dan segelas susu coklat hangat. Ibu menyiapkan ini
untukku, Bapak, dan untuk Ibu sendiri tentunya.
“Bu,
saya masih memikirkan kebiasaan buruk saya.” Ucapku diikuti dengan satu gigitan
roti masuk ke mulutku.
“Ibu
kan sudah bilang, Kai, lebih baik kau menghilangkan sifat burukmu itu.”
lagi-lagi Ibu mengucapkan nasihat itu.
“Sulit,
Bu,” ada nada kecewa diperkataanku. Ibu tak menjawab, dia bungkam. Aku
melanjutkan sarapanku. Piringku kosong, hanya tersisa remah-remah roti. Gelasku
juga sudah kosong. Aku beranjak dari kursi, hendak mencuci piring dan gelasku.
“Saya
berangkat, Bu.” Tangan Ibu yang menyambut uluran tanganku, aku hantarkan ke
dahiku.
“Hati-hati
ya, Nduk.” Aku hanya tersenyum sebagai responnya.
Aku
melangkah ke depan kamar mandi dekat dapur, “Pak, saya berangkat dulu.”
“Ati-ati
yo, Nduk.” Balasnya dari dalam kamar mandi.
***
Pulang
kerja dari kantor, aku berniat pergi ke salah satu teman Ibuku yang berprofesi
sebagai psikolog. Sudah kuputuskan jika aku pergi ke psikolog sejak istirahat
makan siang tadi di kantor. Gara-gara kepikiran hati antagonisku, kerjaanku di
kantor hari ini agak berantakan. Bosku hampir memarahiku gara-gara kerjaanku
berantakan hari ini. Dari balik jendela ruang bosku, aku melihat orang yang
kubenci, Renata, sedang tersenyum-senyum bahagia karena aku hampir dimarahi si
bos. Di situ hati antagonisku mulai berulah lagi. Hatiku menyumpahi Renata
dengan berbagai umpatan. Jika tokoh-tokoh protagonis tahan terhadap segala caci
maki, itu berbanding terbalik denganku. Aku biasanya menyumpahi orang seperti
Renata dalam hati.
Kini
aku sudah berhadapan dengan Bu Sekar, psikolog yang kudatangi sore ini. Aku
hendak menceritakan kebiasaan burukku padanya, lantas meminta sarannya. Saran
yang lebih variatif dari saran Ibuku pastinya.
“Bu,
saya ini orangnya antik. Saya berperilaku baik, seperti tokoh protagonis, tapi
hati saya ini busuk, layaknya hati antagonis. Menurut Ibu, apa yang harus saya
lakukan untuk menghentikan kebiasaan ini?” aku memulai percakapan ini.
“Hm...
aneh,” komentarnya pertama kali, “contoh bad
habits-mu apa?” tanyanya kemudian.
“Saya
sering memendam dengki, Bu. Saya nggak suka sama orang lain yang suka nyalahin
saya. Saya suka iri sama orang yang bisa melakukan sesuatu, tapi saya sendiri
nggak bisa melakukannya. Saya nggak suka kalau kesukaan saya menjadi kesukaan
orang lain.” Aku menyebutkan perasaan yang sering hati antagonisku rasakan.
“Contoh
yang awal tadi masih wajar, Kai. Yang menjadi masalah itu contoh bad habits-mu yang terakhir, kamu nggak
suka kalau kesukaanmu jadi kesukaan orang lain.” Bu Sekar menanggapi lalu
menyeruput kopi di mejanya. “Kalau kamu nggak suka sama sesuatu, kamu melarang
orang terdekat untuk melakukannya nggak?” lanjutnya lagi.
“Hm...
tergantung sih, Bu.” Jawabku apa adanya.
“Misalnya
begini, kamu nggak suka nonton sinetron A, terus ada teman kamu yang sedang
nonton sinetron itu. Apa kamu terus melarang dia untuk nggak nonton sinetron
itu lagi?” Bu Sekar terlihat sedang menyimpulkan analisa-analisanya tentangku.
“Hm...
tidak, Bu,” aku menjawab sekenanya, “itu kan HAM, Bu.” Aku mencoba memberi
alasan.
“Nah,
itu kamu sudah tahu alasannya.” Bu Sekar menyahut tiba-tiba. “Kamu tahu kalau
itu HAM, kamu sendiri justru nggak suka kalau kesukaanmu jadi kesukaan orang
lain juga. Itu kan HAM juga, Kaira.” Bu Sekar menasihatiku.
“Iya,
tapi sulit untuk menerimanya, Bu. Apa saya ini punya kelainan, Bu?”
“Nggak,”
tegasnya. “Tapi kamu harus menghilangkan bad
habit-mu yang itu.” dia sengaja
menekankan kata ‘itu’.
“Sudah,
tapi gagal.” Aku menjawab jujur.
“Coba
kamu pikirkan,” Bu Sekar mengambil jeda sebentar. “Artis-artis, khususnya
penyanyi, mereka menyanyikan lagu mereka. Lalu, para penggemarnya juga ikut
menyanyikan apa yang mereka nyanyikan. Bukankah itu sama seperti bad habit-mu?” dia memberi perumpamaan.
“Iya,
sama. Tapi mereka kan artis,” bantahku lagi.
“Anggaplah
kamu artisnya, dan orang lain yang menyukai kesukaanmu itu penggemarmu.”
Mungkin
pemikiran Bu Sekar itu dapat merubah hati antagonisku. Tapi, apa mungkin
seorang Kaira yang berperilaku protagonis, dan berhati antagonis seperti aku
ini dapat melakukannya?

Komentar
Posting Komentar